Semua Orang Papua sudah menolak perpanjangan Otsus jilid II, namun secara diam-diam tanpa dibicarakan dan tanpa mendengar aspirasi Rakyat Papua, Elit-elit Papua yang disetting oleh NKRI sebagai wali untk mengubah RUU Otsus jilid ll dan tanpa ada perwakilan dari pemerintah daerah DPRP,MRP dan semua rakyat Papua namun pengambilan keputusannya diwakili oleh Pansus dalam negeri dan DPRI.
Kejadian PEPERA 1969 terulang kembali, dilihat bahwa sebelum disahkan Otsus jilid II
1. Pelabelan TPNPB sebagai teroris
2. Pengiriman militer sekian ribu ke Papua
3. Penangkapan Tuan Victor Y sebagai juru bicara Petisi Rakyat Papua (PRP)
4.Dilakukan teror, intimidasi, pembunuhan terhadap aktivis Papua dan rakyat Papua. Aktor yang sama pada saat PEPERA 1969
Otsus bukan solusi untuk menyelesaikan masalah di Papua melainkan sebagai pintu Kepunahan orang Papua. Katanya negara demokrasi kenyataannya penjilat demokrasi semua. Elit-elit Papua rakus otsus, dimanjakan dengan Permen bernama Otsus merasa sudah paling makmur , hanya mereka yang makan dan hanya untuk kepentingan perut elit-elit Papua, lupa akan rambut dan warna kulitnya. Hanya untuk kepentingan sendiri dan tidak melihat penderitaan orang asli papua (OAP) yang sedikit lagi akan punah di atas tanah sendiri
Sayang, sa pu ras Melanesian
Hitam kulit, keriting rambut
Medan Juang,
14 Juli 2021
endang- anggota amp kks









Tidak ada komentar: